jump to navigation

Ibu, Oase Jiwa Tanpa Batas Kamis, Juli 17, 2008

Posted by -ingga- in feeling, kids, love, thoughts.
1 comment so far

Ibu

Sosok sejuta makna.

Tanpa kenal lelah juga letih.

Energi tiada tara yang tak pernah habis

Dan dia bagai lilin tanpa padam..

    Bagi saya, menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah terindah. Saya bisa menggambar apa saja pada sosok-sosok mungil yang telah Alloh SWT amanahkan pada saya. Menggambar pada sosok-sosok mungil tersebut hingga pada saatnya mereka memiliki hidup dan dunianya sendiri. Serta menggambar yang tidak digambarkan oleh ibu saya pada diri saya ataupun menghilangkannya.    

    Ibu adalah doa. Setiap kata yang terlintas ataupun terlisan adalah doanya. Bahagianya adalah bahagiaNya. Marahnya adalah marahNya. Sukanya adalah sukaNya. Sedihnya adalah sedihNya.

Ibu adalah memberi. Memberi cinta. Memberi kasih. Memberi sayang. Memberi ilmu. Memberi pengetahuan. Memberi segala yang ia punya, tanpa pernah mengharap segala balas juga kembali sekecil apapun.

Ibu adalah sandaran. Tempat mengeluarkan rasa. Tempat melepas penat. Tempat penghilang dahaga. Tempat bijak untuk sebuah energy baru.

Dan Rasulullah pun bersabda “..Ibumu, Ibumu, Ibumu..Ayahmu.”. Dan itulah gambaran ideal saya tentang sosok ibu.

Ketika kita menjadi ibu, adalah saatnya kita mengekspresikan diri. Mewujudkan segala mimpi juga impian yang pernah terlintas dalam benak kita sebelum menjadi ibu atau bahkan ketika kita masih kecil bermain ibu-ibuan. Aha , dan kini memang saatnya bagi saya untuk mewujudkan semuanya itu.

    Saya ingin menjadi ibu yang terbaik bagi buah hati-buah hati saya. Menjadi ibu yang tidak memaksakan kehendak saya sebagai ibu mereka. Meskipun, seorang ibu cukup bisa berkuasa dengan posisinya sebagainya seorang ibu. Namun, saya lebih senang menjadi ibu yang menekankan pada kebebasan perpendapat, melalui dialog, juga argumentasi–setidaknya anak saya yang pertama sedang melakukan hal itu–.

    Anak adalah jiwa. Mereka adalah amanah. Mereka punya hati juga rasa. Mereka juga punya ingin dan mimpi. Maka, saya sebagai ibunya sudah menjadi kewajiban saya untuk memfasilatasi semuanya dengan penuh tanggung jawab tentunya.

    Dan kini, hampir empat tahun belakangan ini, saya telah menjadi ibu. Ibu dari kedua buah hati saya. Nadia dan Hasan. Memandang mereka adalah melenyapkan duka. Menatap mereka adalah menghadirkan suka. Dan ini adalah suatu keindahan tiada tara yang tak ingin saya gantikan dengan apapun.

    Mengandung dan melahirkan mereka adalah saat-saat yang penuh perjuangan. Kelahiran keduanya sama-sama melalui operasi ceasar. Dan ini adalah suatu peristiwa yang sama sekali diluar kuasa juga keinginan saya. Ketika sebagian ibu, menginginkan jalan operasi untuk mempermudah mereka, namun bagi saya ini adalah hal yang paling menakutkan juga membahayakan diri saya. Hanya keyakinan saya berbicara lain, karena saya yakin Alloh SWT punya rencana indah untuk saya dengan melalui semuanya ini.

    Kini, mereka sudah besar. Yang pertama, Nadia, berumur 3 tahun 7 bulan. Yang kedua, adiknya, Hasan, 1 tahun 10 bulan. Mereka adalah permaisuri dan raja bagi saya. Yang harus senantiasa dipenuhi segala keinginan dan perintahnya. Dan saya adalah primadona bagi keduanya yang senantiasa menjadi rebutan mereka.

    Rasanya ketika bersama mereka, segala rasa berbaur menjadi satu. Segala cerita menjadi satu kesatuan yang tak dapat saya pisahkan. Dan itu saya namakan keajaiban.

    Segala rasa itu hadir ketika saya berada di tengah-tengah mereka. Ketika mereka menangis dan memperebutkan perhatian saya J . Ketika mereka menginginkan saya untuk menggendong ataupun bercerita kepada mereka. Dan tak terkecuali ketika mereka secara bersamaan BAK (Buang Air Kecil) juga BAB (Buang Air Besar) bergantian :-D .

    Mmhh..uuffh itu adalah saat-saat yang sangat merepotkan sekaligus nikmat yang tak semua ibu dapat merasakannya. Dikarenakan saat ini saya melakukannya sendiri tanpa asisten pribadi yang siap membantu saya. Hingga saya sungguh-sungguh sangat menikmati hari-hari yang saya lalui bersama mereka.

    Bercengkrama, tertawa, juga bercerita adalah saat-saat yang menggembirakan. Setidaknya tidak ada tangis yang menyertai kebersamaan kami J. Hanya ada canda dan tawa. Senyum dan celoteh mereka, yang menjadikan energy baru bagi saya untuk segala aktifitas harian yang saya kerjakan tanpa henti.

    Namun, ketika mereka sakit, lemah dan tak berdaya adalah saat-saat yang paling menyesakkan. Hingga selalu saja kata “Ya Alloh, biar saya saja yang menggantikan mereka melalui sakit itu.” terlontar dari bibir saya.

     Dan seorang ibu sangat dituntut menjadi kreatif kalau tidak mau disebut dengan jungkir balik J. Bagi saya, kedua buah hati saya adalah jiwa tanpa lelah. Saya harus dapat mencari kesenangan mereka yang baru jika tidak ingin mereka menangis karena bosan. Saya harus ekstra sabar dan lapang ketika mereka mulai membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah. Karena biasanya bukan pekerjaan rumah yang menjadi selesai, namun, biasanya rumah menjadi tak karuan bentuknya J.

    Dalam kebersamaan bersama mereka hampir 4 tahun ini. Bagi saya, mereka adalah guru. Mereka adalah pelatih. Mereka adalah penguji. Mereka banyak memberikan pelajaran yang berarti bagi saya. Dan sebagai seorang ibu, saya tak sungkan untuk mengakui semuanya itu, jika saya memang banyak belajar dari mereka.    

Sungguh,

Tiada kata yang dapat terurai

Ketika sosok ibu disebutkan..

Begitu banyak makna

Dan aku ingin menjadi

Sosok sejuta makna akhir zaman

Yang terbaik untuk malaikat-malaikat kecilnya

Rindu Jumat, Mei 23, 2008

Posted by -ingga- in poem.
add a comment

Ada rindu yang kian membuncah

Menunggu datangnya pagi

Menanti hadirnya siang

Menatap jelangnya malam

 

Ada rindu yang selalu berharap

Akankah rasa ini akan berakhir

Rasa yang terasa sesak

Ketika ia makin menyeruak jiwa

 

Ada rindu yang selembut bisik

Berkata akan hasratnya

Mencurahkan pendamnya

Menuturkan hatinya

 

Namun aku

Hanya bisa berkata

“Sabar ya Rindu..

penantianmu tiada pernah sia”

Ya Alloh, Maafkan Aku.. Jumat, Mei 23, 2008

Posted by -ingga- in feeling, love, story.
3 comments

“..Mi, couping-in Abi yaaa..” kata suami tercinta.

pegel banget niy..” lanjutnya lagi..

Dan ntah mengapa aku menangis. Ada rasa kesal dan sebal padanya. Yang punya rasa lelah bukan hanya dirinya. Akupun juga. Seharian dengan segala aktifitas rumah yang tidak bisa dibilang mudah dan enteng. Menjaga juga mengasuh, dan mendidik para aktifis kecil yang tiada lelah melakukan segala aktifitasnya. Dan aku bukan mengeluh, tapi aku hanya ingin dirinya mengerti apa yang akupun juga rasakan.

“Astaghfirullah..” gumamku dalam hati.

Betapa lemah dan rapuhnya diriku. Bukankah segalanya akan menjadi indah jika melakukan semuanya dengan ikhlas. Disela air mata yang terus menetes dan tangan yang sembari men-couping badan suami tercinta, kubangun kembali “kekuatan” jiwa.

Setidaknya menyadari bahwa peran sebagai istri dan ibu dalam keluarga mungilku ini memang tak mudah. Menyadari bahwa seorang istri juga ibu adalah ujung tombak dalam keluarganya. Meski dia bukanlah seorang pemimpin keluarga tapi dia adalah pelita bagi keluarga. Tempat untuk berkeluh kesah, tempat untuk bermanja dan bercanda, tempat menghilangkan letih dan lelah, ataupun tempat menuangkan segala isi rasa dan jiwa. Meski dirinya sendiri tak tahu harus kemana dia dapat menuangkan segala isi rasa dan jiwanya sendiri.

Menyadari bahwa “kekuatan” jiwa yang dilengkapai dengan kelapangan adalah hal yang terpenting dalam diri seorang istri juga ibu. Sosok yang kuat di tengah kelemahan seorang wanita. Sosok yang penuh kelembutan di tengah kerapuhan seorang wanita.

Karenanya betapa indah “hadiah” yang akan diberikanNya jika aku bisa melakukan semuanya dengan ikhlas dan lapang.

“Ya Alloh, sungguh maafkan diriku. Untuk segala ‘keluh’ dan ‘kesah’ yang seharusnya tak pernah ada. Untuk segala tangis dan sendu yang seharusnya tak pernah hadir..” lirihku.

Dan semoga Alloh memaafkan diriku untuk segala isi rasa dan jiwa ini. Menjadikan diri ini menjadi lebih dan lebih baik lagi. Setidaknya aku ingin menjadi istri juga ibu akhir zaman yang terbaik untuk suami dan anak-anaknya tercinta.

Just Misz Our SANI.. Selasa, April 1, 2008

Posted by -ingga- in Parenting, feeling, kids, thoughts.
1 comment so far

    Ops, mohon maaf sebelumnya, saya baru meng-updet blog ini lagi.

Dan kali ini saya sedang tidak berpromosi, secara menurut kabar terbaru, SANI sekarang sudah Mahal..?!?

    Sudahlah, saya sedang tak ingin membahas itu, saya sedang ingin membicarakan isi hati saya yang terdalam. Sebagai seorang ibu yang sangat menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

    Memang sudah dua bulan lebih ini, Nadia tidak masuk sekolah lagi, dikarenakan harus mengikuti Ummi dan Abi nya berkelana mengelilingi dunia ini. That’s sound beautiful, right?

    Dan sudah seminggu ini, tiba-tiba Nadia..

    ”Abiiiiii, sini deh…”

    ”knapa Na..?” Tanya Abi

    ”Nadia kangen mau sekolah, mau belajar, tapi di Sekolah Alam Natur Islam yaaa..” jawabnya

    Dan Abi pun tersenyum kecut, dan melaporkan hal ini pada saya. Tak kuasa, berkaca juga mata ini.

    Apa kami, terutama saya sudah keras padanya. Secara memaksanya mengikuti jalannya kami. Jalan yang terpaksa kami tempuh untuk segala permasalahan yang terjadi. Ntahlah, tapi bukankah setiap manusia punya cara masing-masing untuk menyelesaikan setiap masalahnya. Dan sebagai seorang anak yang masih dibawah umur, dia adalah tanggung jawab kami. Dimana tanggung jawab akan semua kebutuhannya adalah ditangan kami. Semoga kelak kamu mengerti Na..

    Dan saya pun teringat, begitu kerasnya saya padanya. Marah ketika dia BAB di celana, secara menurut saya seharusnya hal itu tidak dilakukannya lagi, mengingat dia sudah sangat bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Marah ketika dia mengompol saat tidur, padahal saya sudah mengingatnya, mengajaknya untuk pipis dahulu sebelum tidur, atau sengaja saya bangunkan untuk pipis dahulu-meski banyak ga’ maunya juga J-. Marah ketika dia begitu rewel..

    Upsssss saya memang sudah keras padanya. Berharap banyak padanya. Padahal anak seumurnya, apa siiihh keinginannya. Secara saya juga belum memberikan yang terbaik untuknya meski saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untukknya, menginginkan yang terbaik untuknya meski mungkin apa yang saya inginkan tidak selalu berjalan sama dengan keinginannya. Begitu pula dengan keinginan sekolahnya. Ufhhh Na, maafin Ummi yaaaa..

    Dan saya pun segera mencari tempat untuk menyalurkan keinginannya. Berkeliling kesana-kemari, dan hasilnya NOL. Saya belum menemukan yang seperti SANI ataupun mendekatinya. Dalam hal apapun.

    Dari masalah tempat, begitu sempit dan crowded, saya bingung, nanti si Neng- Nadia- mau lari-lari dimana. Belum lagi pas saya datang ke suatu tempat, sang guru lagi teriak-teriak ngingetin anak jangan main-main di belakan ayunan dengan temperamen tinggi. Duh, bisa gawat anak gw, secara yang boleh teriak-teriak marahin Nadia cuma Umminya gitu loh J. Belum lagi masalah jumlah murid dalam satu kelas dengan jumlah gurunya. Satu guru untuk 30 anak. Wadowwwww, anakku ada di prioritas yang mana, gimana klo si Neng BAB, tahu ga’ sang guru?! Bukan hanya itu, tingkat pendidikan setiap anak kan berbeda-beda, klo disamaratakan dengan 30 anak itu duh ga’ kebayang deh. Dan lunglailah diriku.

    “Mi, ga’ akan dua SANI.” kata suami saya ketika melihat saya begitu galau

    Tiba-tiba saya pun ikut merindukan SANI. Tempat yang cukup luas, secara namanya sekolah alam gitu loh. Setidaknya ada tempat untuk Nadia berlari kesana kemari. Guru-guru yang penuh dengan kelembutan dan kesabaran. Perbandingan guru dan murid yang seimbang. Dulu di playgroupnya SANI pertama kali masuk ada 7 orang dimana hanya Nadia seorang perempuannya. Perbandingannya 4 orang murid adalah 1 guru, karena ada 7 orang murid maka guru di playgroup ada 2. Ibu Endah dan Bapak Rangga. Setidaknya dengan begitu Nadia, anak saya mendapatkan perhatian penuh, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran yang berarti bagi saya. Dan yang terpenting adalah mengenakan pakaian tertutup untuk anak perempuan sangat diwajibkan sehingga Nadia meski masih playgroup diharuskan memakai jilbab pula dan ini yang belum saya temui di sekolah yang cari kemarin meski namanya sekolah islam.

    Opssss lagi, apa saya sudah menggantungkan anak saya pada sekolah khususnya SANI dalam pendidikan anak saya. Bukankah tugas seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya. bukankah ibu adalah madrasah untuk anak-anaknya. Dan saya menjawab, saya tidak menggantungkan anak saya pada sekolah, namun apa saya salah jika saya butuh partner dalam mendidik anak-anak saya. Karenanya saya mencari partner terbaik untuk anak-anak saya. Saya sangat concern dalam hal ini, setidaknya partner yang sejalan dengan apa yang saya inginkan untuk anak-anak saya. Sehingga sangat wajar, klo saya sedikit cerewet untuk masalah pencarian partner ini.

    Akhirnya saya pun berpikir tentang homeschooling, meski ini bukan untuk yang pertama kalinya saya menginginkan Nadia untuk belajar dirumah saja bersama saya. Tapi kembali lagi ke jiwa setiap anak yang pada dasarnya selalu ingin bermain, bersosialisasi. Yang tentunya mungkin tidak bisa dia dapatkan jika dia belajar di rumah bersama saya. Mungkin bukannya tidak tapi belum. Mengingat sebagai seorang ibu tanpa asisten, juga harus menjadi seorang guru yang bernama Bu Putri J. Saya belum bisa membagi waktu saya sebagaimana mestinya. Saya masih bingung untuk melakukan semuanya dengan cantik -bisa tolong bantu saya- Karena saya makin merasakan betapa indahnya menjadi ibu.

    ”Na, belajarnya sama Bu Putri aja yaaa.” Tanya saya.

    ”Iya, Bu Putri. Tapi teman-temannya Nadia mana Bu Putri..” jawabnya.

    Dan saya pun tergagap harus menjawab apa..

    ”Mi, ini helm kya Nadia klo mau naik kuda di Natur Islam, Mi.” ceritanya mengalir begitu melihat sebuah helm yang mungkin mirip dengan helm di sekolahnya.

    ”Biar ga’ kepanasan Mi, kata Bu Endah. Klo udah naik kudanya, Nadia boleh main bola sama teman-teman.” Lanjutnya.

    ”bla..bla..” lanjutnya yang saya tak lagi mendengarnya.

    Karena saya pun menerawang jauh.

Na, ummi bukan tak merasakan rindu yang kamu punya karena ummi pun merasakan apa yang kamu rasakan. Dan ummi pun merasakan hal sama pula. Dan Alloh mengetahui segala apa yang kita rasa. Semoga Alloh selalu memberikan yang terbaik untuk kita. karena Alloh selalu punya rencana indah untuk kita. sabar yaaa Sayang.

    
 

    

    

Dan Sebulanpun Berlalu.. Sabtu, Maret 8, 2008

Posted by -ingga- in feeling, kids, love, story.
4 comments

    Sebulan tanpa asisten pribadi sungguh menyenangkan, -secara kata merepotkan sangat tidak tepat untuk menggambarkan segala rasa yang saya punya.- setidaknya tanpa asisten pribadi ternyata saya pun bisa -meski memang harus sedikit-banyak merepotkan suami tercinta, semoga Alloh membalas segala kebaikanmu yan Cinta..-

    Sebulan tanpa asisten pribadi, bagi saya merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Ntah apa yang membuat saya ingin melakukan semua pekerjaan rumah tangga by myself, rasanya indah dan bahagia sekali jika apa yang saya lakukan untuk suami dan anak-anak saya adalah dari tangan saya sendiri. Namun, karena suami saya begitu mencintai saya J, sehingga selama hampir 5 tahun pernikahan kami, dia tidak pernah mau membuat saya repot-repot dengan semua keinginan saya, “kasihan..”katanya.

    Dan sebulan yang lalu, kami memutuskan untuk hidup tanpa asisten pribadi. Saya pun tersenyum, dan berkata it’s my turn, dengan berbagai rasa yang tak terungkapkan.

    Namun, saya memang bukan super Mom, seperti Mama, ibu saya ataupun Emak, ibu suami, yang bisa melakukan semuanya tanpa terkecuali. Saya masih dalam proses pembelajaran, setidaknya ini kali pertama bagi saya hidup sendiri tanpa bantuan siapapun kecuali suami dan my kidz.

    Hal pertama yang saya lakukan adalah membagi waktu. Sebelum menikah dulu sang sahabat pernah berkata,

“G, Lo tahu ga’ siy, ustadzah A itu ya sibuk banget, dan dia ga’ punya khadimat (baca:asisten) tapi semuanya bisa dia kerjain , sendiri.”

“Caranya..” Tanya saya.

“Dia bangun pagiiii sekali, lalu dia kerjakan semuanya mulai, mencuci, menyapu, mengepel, sampai memasak untuk anak-anaknya. Truz setelah subuh, dia pergi..bla bla” jawabnya.

Hal yang paling saya garis bawahi adalah melakukan semuanya pagiiii sekali. Saya memang tidak bekerja, namun bagi saya ketika kedua anak saya terbangun dan memulai aktifitas mereka yang tiada lelah, saya adalah sepenuhnya milik mereka. Jadi kalau ada pekerjaan yang tidak ingin ditemani mereka, saya lakukan di awal pagi.

Biasanya saya mulai bangun jam 3 pagi, merendam baju, mencuci piring, memasak nasi, dan tidur kembali jika memang bisa. Jika tidak, dikarenakan my kidz sudah terbangun, maka mulailah saya adalah sepenuhnya milik mereka. Apapun yang saya lakukan selalu bersama mereka, biasanya setelah makan pagi, mencuci baju sekalian memandikan mereka. Anak kecil paling senang bermain air, busa, dan sabun. Membangkitkan imajinasi mereka, adalah hal terpenting bagi saya. Membuat segala yang sedang lakukan adalah sebuah pemainan yang menyenangkan bagi mereka adalah prioritas saya. Sehingga saya bisa menjadi sepenuhnya milik mereka.

Biasanya setelah mencuci, mandi, dan menjemur pakaian, mereka lelah dan tertidur. Dan saya pun ikut tertidur J. Jika tidak, kamipun bermain lagi yang lain, meski terkadang saya harus mencuri-curi waktu tidur karena mata ini tak bisa diajak kompromi. Dan mereka pun akan segera membangunkan saya kembali.

“Ummi, jangan tidur dunk.” Kata yang sulung

“eh..eh..” kata yang kecil sambil menarik-narik mata saya. J

Dan saya pun terbangun dan kembali bermain dengan mereka. Hal yang mungkin bisa digantikan oleh asisten saya dulu, sekarang tidak lagi.

Namun, bukan hidup namanya jika datar dan tanpa gejolak. Marah dan letih kadang hadir, sedikit menyeruak yang terkadang merusak suasana. Tapi kembali reda dan suasana pun membaik. Just enjoy it semangat saya.

Kadang kerepotan-kerepotan kecil terjadi. Ketika si sulung BAB si kecil pun ikutan, dan itu terjadi saat makan. Di lain waktu si sulung muntah, dan si kecil pipis celana. Atau keduanya menangis ketika saya harus ke kamar mandi sehingga mereka harus berdiri dan menangis di pintu kamar mandi. Belum lagi si sulung digigit oleh si kecil hingga menangis, atau si kecil dipukul oleh si sulung karena berebut mainan. Dan jika mengingat itu semua, saya bisa tersenyum, namun tidak ketika saat-saat itu terjadi. Ada marah dan kesal tapi saya ingin menikmati ini semua sehingga saya bisa sabar menghadapi semuanya meski tidak selalu. Dan mereka pula, my kidz obat penenang dan penyejuk hati saya. Hingga saya bersyukur bisa melalui ini semua bersama suami dan anak-anak saya.

Mungkin yang paling menderita adalah suami saya J karena sang istri berubah menjadi sangat cerewet sekali, secara saya selalu meminta bantuannya setiap kali.

“Bi, tolong ambilin ini…”

“Bi, tolong ambilin itu..”

“Bi, tolong ini..”

“Bi, tolong itu..”

-maafin ummi yaaa Bi, semoga Alloh membalas segala kebaikan Abi-

Dan sebulan pun berlalu. Dengan izinNya, tanpa asisten, hidup lebih berwarna. Saya lebih sabar dalam menghadapi segala sesuatunya, setidaknya ini adalah proses pembelajaran yang sangat berarti dalam hidup saya. Meski saya tidak bisa sehebat atau sesuper Mama dan Emak. Tapi saya ingin melakukan yang terbaik untuk suami dan anak-anak saya. Berusaha menjadi istri yang terbaik untuk suami dan ibu yang terbaik untuk anak-anak saya.

Dan ini semoga menjawab kediaman blog ini untuk beberapa waktu. Ketidaknyaman pembaca yang datang karena selalu tanpa updet J

 

unjuk gIg!.. Rabu, Januari 23, 2008

Posted by -ingga- in Parenting, kids, love.
Tags: , , , , , , ,
3 comments

Hasan

Jarang ada niy tulisan tentang anakku yang satu lagi, Hasan Abdullah Azzam, my cute boy, sekarang Hasan umurnya 1 tahun 4 bulan, sedang lucu-lucunya, dan sedang “galak-galak”nya paling seneng nggigit, masih inget dunk dengan tulisan ini, dan sekarang sang Kakak hanya bisa pasrah saja dan menangis, padahal dulu sang Kakak yang seneng banget nggigit si adik..-pelajaran 1, setiap anak selalu ada fase yang dinamakan mgigit :D -

“..Hasan dengan unjuk gigi nya..” :D kata-kata itu terlontar oleh seorang teman, dikarenkan setiap temu pekanan my cute boy selalu nggigit anak-anak temanku yang usianya di bawahnya, bagaimana tidak mereka menangis atau bahkan sedikit “trauma” ketika melihat Hasan :P , jadilah suasana temu pekanan yang ramai dan heboh dikarenakan my cute boy ini..

Wajah polosnya tidak menunjukkan rasa bersalah ketika “korban” nya menangis tak berdaya :D , but yang jelas ini semua adalah merupakan salah satu “komunikasinya” -pelajaran 2, dan mgiggit itu adalah komunikasi buah hati kita untuk mengungkapkan keinginannya :D -

Dibanding Nadia -ups aku tidak sedang membandingkan my cute boy dengan d’sister- cuma mau ngasih tau aja, klo diumurnya ini Hasan belum bisa “bicara”manggil namaku “ummi” saja belum, paling “Baaaa..”, “te..te..te..”, “waaaaa..” itu yang dia bisa sedangkan d’sister diumurnya yang sama dengan Hasan, dia sudah bisa memanggil “Abi” dan “Ummi” atau sekedar mengungkapkan apa yang dia mau..-pelajaran 3, setiap anak itu memiliki keunikan yang berbeda, dan kelebihan-kelebihan yang berbeda pula-

Tapi meski belum terampil “berbicara” Hasan cukup mengerti apa yang sedang kita bicarakan, apa yang sedang kita perintahkan..-pelajaran 4, so don’t worry, secara kata orang anak laki-laki memang agak telat dalam berbicara..-

So, ami+ati, doakan Hasan yaaa menjadi anak yang sholih, penyejuk mata dan hati keluarga, dan ketika nanti sudah bicara dan besar kelak, jadikanlah lisan yang senantiasa membawa keberkahan dan bermanfaat bagi umat..-amiiinnn-

 

Bully Free School.. Senin, Januari 21, 2008

Posted by -ingga- in Parenting, kids, love.
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Ada program baru di SANI, it called BULLY FREE School

Apakah Bullying itu?
Perilaku yang mengutamakan penggunaan agresi dan kekuasaan baik verbal maupun perbuatan, yang mentargetkan pihak lain sebagai korban

Adakah Bullying di sekolah?
Kenyataannya ya, baik disadari maupun tidak, anak-anak kita rawan menjadi perilaku ataupun korban bullying

Apa akibat Bullying?
-Prilaku Bullying yang tidak diterapi sejak dini dengan baik akan berkembang menjadi orang dewasa yang terbiasa menggunakan cara-cara premanisme untuk mencapai tujuan mereka, tidak mampu berempati pada sesama, sehingga menjadi asosial
-Korban Bullying juga harus mendapatkan perlakuan yang sama penting, karena dapat berdampak sikap ketakutan hingga depresi. Tujuan utamanya adalah membangkitkan kesadaran bahwa mereka juga punya kekuatan dan kelak mampu menangi masalahnya sendiri. Jadi nasihat “jauhi saja anak yang nakal” tidak berguna untuk memberi anak perangkat kemampuan membuat solusi sendiri

Apa yang dapat dilakukan di rumah?
1. Beri contoh/teladan perilaku menghormati satu sama lain, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan
2. Tekankan pada anak jangan lakukan sesuatu yang dia tidak akan suka jika orang lain melakukan hal itu pada dirinya
3. Bangkitkan kepercayaan diri anak, bahwa masing-masing adalah kepribadian unik yang memiliki kelebihan sendiri-sendiri, sehingga tidak pantas direndahkan oleh orang lain
4. Orang tua bersedia bekerja sama dengan sekolah, baik dalam bentuk komunikasi melalui telepon, buku penghubung, ataupun bersedia segera datang ke sekolah jika diminta datang untuk mendiskusikan masalah mengenai anak.

sumber : newsletter SANI,

Catatan Nadia Minggu, Januari 20, 2008

Posted by -ingga- in Parenting, kids, love, story.
3 comments

Kemarin, 19 Januari 2008, first timenya Nadia terima Raport untuk semester pertamanya..niy sekilas catatannya dari gurunya :)

Nadia datang ke sekolah dengan senyum. (ah Nadia memang selalu tersenyum :P ) Setelah menyimpan tasnya di loker, dengan penuh semangat Nadia mengikuti kegiatan pagi tanpa diingatkan lagi oleh gurunya. Nadia selalu mengawali kegiatan paginya dengan menggambar di saung jurnal.

Nadia sudah dapat bersosialisasi, baik itu dengan teman-temannya maupun guru-gurunya. Bahkan, Nadia terlihat akrab sekali dengan salah satu anggota keamanan SANI (Sekolah Alam Natur Islam). (aha Nadia, you’re so beautiful) Setiap kali Bapak itu mendapat giliran tugas pagi, Nadia biasanya mendapat hadiah digendong oleh Bapak satpam sampai ke saung.

Nadia sudah menunjukkan sikapnya yang dewasa dan mandiri, misalnya ia senang membantu temannya mengalami kesulitan dengan kata-kata seperti “sini aku ajarin”. (Na, Na, kamu dewasa aja :P ) Rasa tanggung jawabnya juga sudah muncul. Ia tidak lupa untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan (ya iyalah, maen air gitu loh :P ) dan setelah selesai segera merapikan kembali tasnya.

Nadia mengikuti pembelajaran dengan antusias. Pada saat guru bertanya atau memberikan instruksi, Nadia tidak mengalami kesulitan untuk fokus pada pelajaran, saat guru bertanya atau saat mendengarkan instruksi guru, ia tidak ragu-ragu untuk memberikan respons.

Alhamdulillah Nadia sudah dapat menyebutkan lambang bilangan dari 1 sampai 5. Nadia bisa memahami dengan cukup baik huruf vokal dan huruf konsonan (S, M, L, dan B). Nadia cukup lancar dalam menghafal surat Al-Fatihah dan An-Naas. Untuk membaca huruf hijaiyah, Nadia cukup baik dalam memahami huruf. orang tua diharapkan untuk dapat membantu Nadia mengulang-ulang kembali di rumah pelajaran agar tidak lupa. Nadia mengikutinya penuh semangat saat mengikuti kegiatan berkebun. Sejak pertama kali ia mencoba naik kuda dan melakukan kegiatan outbound, ia sudah terlihat berani mencoba.

Nadia sampai saat ini belum dapat mengendalikan emosinya ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ia pun akan menangis cukup keras. Meski sikap ini normal bagi anak seusianya, orang tua diharapkan untuk banyak melatih Nadia menyelesaikan masalah dengan berbicara bukan dengan menangis. Caranya mungkin biarkan ia menangis dulu baru ketika reda orang tua boleh mengajak berbicara. Katakan “apakah dengan menangis, Nadia bisa mendapatkan yang dikehendaki?” atau “kira-kira Ummi tahu tidak masalah Nadia?” atau bisa juga “apakah dengan menangis masalah Nadia selesai?” (atau anda mau menambahkan untuk solusi ini :P )

Ami, Ati..doain Nadia yaaa selalu menjadi anak yang shalihah, menjadi penyejuk mata dan hati kedua orang tuanya..

Love is Susu.. Rabu, Januari 16, 2008

Posted by -ingga- in kids, love, story, thoughts.
Tags: , , ,
2 comments

“Cinta tidak bisa sirna hanya disebabkan ketidakmampuan pengungkapan. Sebab bagian utama dari cinta adalah hati, bukan rasio. Seorang anak kecil mencintai susu, dan susu menjadi makanannya. Meski demikian, dia tidak dapat menjelaskan apa susu itu sebenarnya. Meskipun jiwanya menghasratkan; mustahil dia mampu mengungkapkan dengan lisan kepuasan yang diperoleh dari meminum susu atau bagaimana dia menderita apabila dijauhkan dari susu” Jalaluddin Rumi (Kearifan Cinta)

yang terlintas ketika membaca tulisan tersebut adalah kedua anak saya, Nadia dan Hasan..yang begitu “cinta” dengan susu-susu mereka..Nadia dengan susu bendera 1-2-3-nya dan Hasan tentu dengan susu ASI-nya..

dan sungguh, betapa “menderita”nya mereka jika dijauhkan dari susu-susu mereka :)

tangis tak menentu akan selalu mengiringi hingga sang susu datang dan diminum, Nadia yang akan selalu meminta “Mi, susu..” mulai intonasi kecil hingga “UMMIIIIII, SUSU…!!!” :D

tak jauh beda dengan adiknya Hasan meski dia belum bisa berkata-katapun, tangis akan selalu mengiringi ditambah dengan tangannya yang menarik-narik saya mengajak ke kamarnya atau membawa bantalnya hingga sang ibu tercinta memberikan ASI-nya dan tenang lah ia.. :D

coz Love is SUSU, melaluinya terjalin cinta dan kasih, komunikasi indah yang mungkin tak dimengerti oleh setiap orang..

ampe 5 aja.. Selasa, Januari 15, 2008

Posted by -ingga- in kids, story.
2 comments

U : Nadia, sayang ayo dunk, jangan coret-coret di sini..kan disini bukan untuk coret-coret di dinding..

N : GPP Mi, Nadia cuma mo gambar balon aja koq..

U : Nadia,  di tempat lain aja, Ummi itung yaaa ampe 3..

N : jangan Mi, ampe 5 aja yaaa..

U : :D ..–aahhh kamu Na, bisa aja, pake”nawar” segala lagi..dan akhirnya mencoret-coret lah ia di dinding itu..–